Toleransi Semu, Benteng Berpintu Gerbang


04.02.15 Posted in My Favorite Story by

Dulu ada teman temanku ngobrol (bukan dengan ku aku hanya mendengarkan saja), mereka ngobrol/diskusi soal keyakinan atau agama. Dan yang paling ku ingat adalah ketika salah seorang temanku berkata bahwa memang semua agama itu benar, tapi mari kita buktikan saja nanti “disana”.
Pas pulang bukan saat diskusi itu (tidak mungkin aku berdiskusi soal agama dengan mereka, mereka mengenalku sebagai orang yang spiritualnya busuk, tidak layaklah bukan level mereka), aku memikirkan kata-katanya kok kurang enak di perasaan ku.
Menurutku sendiri ini loh,
Akan menjadi semu dalam bertoleransi jika setiap penganut agama di dalam batinnya selalu mengklaim, bahwa hanya  agamanya yang mempunyai kebenaran mutlak, hanya agamanya saja sebuah jalan yang lurus.
Aku berkeyakinan ketika didalam batin seseorang ada rasa dirinya yang paling benar, walo tidak berbuat atau berkata yang menyakiti perasaan orang lain, tetap saja hal itu terpancar dari sorot matanya dan hal semacam ini yang paling tidak ku suka.
Mungkin atau entah kenapa ya, seperti bisa membedakan orang yang hati sama ucapannya itu jujur dengan orang yang tidak tulus. Ya itu salah, harusnya aku juga menyikapi apa yang terjadi didepan mataku saja tanpa perlu berkhayal hal yang kita tidak tahu pasti isi hati mereka.
Ini mungkin tentang benteng atau sesuatu yang melindungi diri kita dari pihak luar ya.

Membangun benteng yang kuat dan yakin benteng kita memang sangat kuat itu benar, tapi hanya karena keyakinan itu bukan berarti kita berhak meremehkan benteng orang lain, apalagi memikirkan benteng orang lain dari sudut pandang kita sendiri, kita tidak tahu pasti bagaimana mereka membangunnya, yang kita tahu cuma wujud luarnya saja, bahkan ketika kita pernah berkunjung ke benteng orang lain itu, sama sekali kita tidak punya hak menilai batas kekuatannya.

Dan menurutku sangat tidak perlu untuk membuktikan benteng siapa yang paling kuat. Karena menurut ku membangun benteng itu tujuannya hanya untuk agar kita memiliki ketenangan saja dan jelas batasan kita, oleh karena itu tabu ketika kita berpikir tentang benteng orang lain apalagi sampai  terbesit pikiran tentang membuktikan mana yang lebih kuat, yakin dengan bentengmu sendiri itu saja sudah cukup.
Kalo sesatku yo, tidak ada benteng tanpa pintu gerbang, jadi semua boleh ku masuk kedalam benteng ku setelah nanti ku rasa tidak layak baru akan ku taruh di luar benteng. Wah bagaimana jika yang masuk benteng itu menghancurkanmu dan bentengmu malah dari dalam?!,
Hahaha.., karena aku sendiri yakin dengan kekuatanku sendiri, aku bisa menghancurkan apasaja yang masuk ke dalam wilayah bentengku tanpa di ketahui orang lain diluar sana, dan sebenarnya bukan menghancurkan tapi cukup menaruhnya di luar benteng itu tadi.
Dengan kata lain sebenarnya aku mungkin tidak perlu benteng, benteng perlu hanya untuk mengukur cakupan kemampuan kita, hanya batasan supaya tidak kembali mundur tetapi ada kemajuan dan sampai akhirnya tidak ada benteng itu karena tidak dapat membatasi kemampuan kita, hahaha… Bukan tidak terbatas tapi tidak tahu batasannya sampai mana bahkan membayangkan nya pun tidak bisa, seperti kita tidak bisa membayangkan seperti apa batasan alam semesta ini hahaha…


Leave a Reply