Pendengar Cerita Surga dan Neraka yang Baik


08.08.15 Posted in My Favorite Story by

 

Sudah bisa dipastikan ketika temanku yang satu ini telpon pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendengarkan cerita dan kemudian bertanya tentang pendapatku. Basa basinya cuma bertanya kabar keluarga paling, yah setidaknya ‘memaksa’ kami berdua untuk saling mendokan secara tertulis bahwa “Bapak/Ibu sehat aja kok di rumah”.
Agama kami di KTP berbeda, sudah kami ceritakan semua pengetahuan tentang agama di KTP walo mungkin kalo aku dong-nya cuma 20% saja tentang Agama di KTP-ku.

Mungkin yang dia takutkan apakah aku akan berubah menjadi orang tidak mau berteman dengannya, atau mungkin dia akan merasa lebih baik tingkat spiritualnya dengan keberadaan orang mempunyai jalan hidup seperti aku. Ya mungkin saja suatu hari aku berubah pikiran tentang caraku menyikapi sesuatu. Itu mungkin saja, saat ini aku setuju dan lain hari aku tidak setuju, kan namanya juga proses..
Yang ditanyakannya tentang kejadian yang menjadi topik hits di masyarakat, lebih sering berpendapat tentang apa yang dipelajari di kitab sucinya, atau pelajaran yang didapatnya dari tokoh Agama. Tentu saja yang dia inginkan bukan jawaban berdasar agamaku, “Dit kalo kasih pendapat anggap aja gak ada orang yang mendengar pendapatmu ya…”

Hahaha dia cukup mengenalku dengan baik, memang jarang sekali aku mengeluarkan pendapat kalo soal keyakinan. Aku tetap saja tidak akan menjawab secara langsung, akan kuceritakan apa yang ku dengar, apa yang pernah ku baca, dan kemudian sedikit berpendapat dengan kata “mungkin”.
Aku berpikir orang akan selalu berkesan ketika dia menemukan sesuatu itu dengan usahanya sendiri, entah itu barang atau sebuah sekedar penilaian saja. Dia menanyakan pendapatku tentang teknis ajaran agamanya, aliran di agamanya, perbedaan tingkatan pengetahuan orang di agamanya. Dia cukup detail bercerita dan menjelaskan…
Dan aku menjawab cuma “oooo, gitu toh ternyata…,

Eeeee….,
Diluar sana, ada yang berpendapat tingkat spiritual orang beragama ada dua golongan, orang beragama beranggapan temannya yang satu agama ini masih butuh pengakuan dari orang lain, masih membutuhkan simbol (mementingkan kulit luar) atas kebaikannya. Tentu saja dia berpendapat seperti itu karena dia menjalankan agamanya dengan ikhlas dan tulus tanpa butuh pengakuan dari orang, dia merasa yang dibutuhkan adalah penilaaan dari Tuhan-nya. Mana yang lebih baik, aku rasa keduanya boleh boleh saja kok, kan ada kalanya sikap baik kita bisa dijadikan contoh/ menginspirasi bagi orang lain untuk berbuat baik sesuai agama, maka gak apa apa kita menunjukkan ‘simbol’ bahwa kita menjalankan agama dengan baik.
Dan Ada orang tidak mempunyai Agama apapun, dia merasa tidak membutuhkan ‘kendaraan’ apapun untuk menjalani hidupnya di dunia ini. Orang seperti ini, mungkin merasa bahwa tidak membutuhkan sebuah ilmu/kitab suci dari manusia lain untuk berkomunkasi dengan Tuhan-nya. Pernah mendengar/baca (lupa lah), bahwa dulu nenek moyang kita (orang jawa) ini, melakukan hal seperti ini, katanya cara mereka berkomunikasi dengan Tuhan tidak selalu kita (manusia ini) yang ngomong (doa) terus atau komunikasi satu arah saja, ada kalanya kita juga ‘mendengarkan’ Tuhan.

Jaman dahulu sangat tabu katanya ngomong soal spiritual itu, karena tingkat pemahaman seseorang tentu berbeda, mungkin akan terdengar gak masuk akal ya istilahnya kalo jaman sekarang. Ya misalnya dia mendengar perintah “dawuh” untuk berpuasa untuk menebus salahnya, ya orang lain tidak perlu melakukannya, itu bukan perintah untuknya, kalo misal kesalahan yang sama belum tentu juga harus berpuasa sama dengan orang yang tadi, lalu bagaimana?, Apa yang harus dilakukannya? Apakah cukup mencontoh orang lain itu?
Nah mungkin, mungkin lagi ini ya; makanya orang yang mendapat ‘petunjuk’ itu menyimpan untuk dirinya sendiri, karena mereka merasa itu hanya untuknya, dan ketika orang lain melakukan sesuatu mereka selalu berpikir itu adalah perintah dari Tuhan-nya sendiri sama dengan yang dilakukannya, jadi kita tidak perlu berpendapat atau menilainya dengan dasar petunjuk yang kita terima. Aku rasa seperti itu ya kenapa dahulu nenek moyang kita sangat terbuka pada Agama apapun yang masuk ke Nusantara ini, dan ini menurutku juga ya kenapa Agama bisa diterima dengan baik, karena yang diajarkan kurang lebih sama lah.

Ya kurang lebihnya seperti itu, jadi pada dasarnya orang seperti ini (tidak memilih salah satu agama) mungkin pandai membaca petunjuk dari Tuhan-nya. Misalnya ini cuma misalnya yang pernah kudengar loh, ada orang yang bermimpi sesuatu dan efeknya dia tidak melakukan sesuatu berdasar karena mimpinya, dia mengalami suatu musibah berarti dia harus melakuan sesuatu, ya semacam seperti itu komunikasi dengan Tuhan-nya, kalo yang lebih tinggi mungkin benar-benar ada suara jelas dari Tuhan untuk melakukan sesuatu.
Nah temanku, kamu merasa masuk golongan yang mana, kalo aku sih masuk ke dalam salah satu golongan itu baik, tidak termasuk dua golongan itu pun tidak masalah hahaha”

Kemudian temanku menanyakan tentang Surga dan Neraka.
“Kamu percaya ada Surga dan Neraka po?
hahaha Apa yang terjadi setelah mati ya aku sendiri tidak tahu. Di beberapa negara Asia ada keyakinan yang mempercayai adanya Reinkarnasi (lahir kembali), Apakah jutaan manusia itu akan terima ketika mereka di masukkan ke Surga ketika mereka dalam menjalani hidupnya tidak bertujuan untuk itu, bahkan tidak terbesit di pikirannya bahwa nanti juga akan ada Neraka. Ya kita tidak tahu pasti ya, ada tidaknya Surga dan Neraka itu, misal kowe mempercayai nya, eeee kok malah lahir kembali toh iki… Terus piye?
Ya kalo aku sih manut aja mau ditempatkan dimana, yang penting sekarang menjalani hidup dengan baik, ya apapun hasilnya nanti, ya pada akhirnya cukup bilang ‘Oooo, jadi begini toh…”
Mungkin seperti, kita pergi menuju pantai pertama kali, apa yang perlu kita lakukan?! Kalo menurutku ya nikmati perjalanannya itu sendiri, sudah menjadi keharusan bahagia di perjalanan itu, entah mampir atau istirahat dulu yang penting tujuannya ada, sebuah pantai yang di bayangan kita suatu tempat/kondisi yang lebih menyenangkan daripada perjalanan kita itu sendiri.
Ya itu kalo menurutku, manut saja dimana kita nanti Tuhan menempatkan kita, yang perlu kita lakukan adalah mengambil jatah apa yang menjadi domain kita (batas kekuasaan kita) yaitu, menjalani hidup dengan baik karena berharap akan ada sesuatu yang lebih baik jika kita melakukan hal-hal baik.”

Bagaimana ketika orang berpindah Agama?!
(Lukman Sardi pas jadi berita) “Eeee, emang ngopo?! Maksudnya berdosa apa gak gitu toh? Hahahaha ya gak ngerti juga aku
Ada yang mengibaratkan kalo pindah agama itu level penghianatannya lebih tinggi dari penghianatan seseorang terhadap suami atau istrinya. Kalo aku mah yang jelas-jelas aja, ketika kamu menghianati pasanganmu jelas itu menyakiti orang lain, dan itu tidak boleh. Terus apakah pindah Agama berarti menghianati Tuhan-nya?! Kok iso?! Emang Tuhan itu ada berapa, bukankah semua keyakinan mengajarkan Satu Tuhan atau setidaknya ada SESUATU yang paling dan harus disembah lah.

Ada cerita ini, ada anak kecil belum dong lah Dia meminta Ayahnya untuk menggendongnya ” Om.. Om.., minta gendong Om…” Sudah jelaskan kui salah sebut, lalu apakah Ayah tadi tidak mau menggendong anaknya kui?!… Dan kemudian Anak itu sudah dewasa, sudah tahu bahwa untuk memanggil orang itu dengan kata “Ayah”. Karena terbiasa, guyon, atau bahkan serius lah anak tadi tetap memanggilnya dengan kata “Om”. Apakah sang Ayah tadi akan tidak tahu bahwa yang dimaksud adalah dirinya.
Aku rasa akan seperti itu, bahkan ketika ajaran Agama mu SALAH, ketika apa yang kamu lakukan hanya bermaksud dan bertujuan untuk menyembah Tuhan, aku rasa Tuhan lebih DONG-an daripada seorang Ayah tadi. Jadi kalo aku sih monggo-monggo saja mau memilih cara apa, dan nama seperti apa untuk menyembah Tuhan. Jadi ketika aku melihatmu secara kasat mata sepertinya saat itu sedang berdoa di bawah pohon, menyembah batu, bakar kemenyan, menghadap timur menyembah matahari terbit, dll; Aku sudah bisa dipastikan tidak tahu niat dan tujuan di hati mu toh, jadi terserah lakukan ae, sudah ada yang MAHA DONG-an kok..,

Berarti dengan kata lain aku ngomong gak masalah yo kui pindah Agama? hahahaha Eeee… kui aku berpikir, karena dosa apa gak-nya, yo nanti penilaiannya, kalo saiki mah orang lain belom tentu benar penghakimannya.. Kalo efek ke-aku sih gak ada, aku tidak berpikir hanya karena orang pindah Agama itu berarti Agama yang baru dianutnya lebih baik. Misalnya, semua orang berbondong-bondong pindah Agama, apakah tidak timbul pertanyaan sebenarnya tujuan beragama ki opo toh?!
Karena pengen masuk surga, pengen banyak temannya, karena ingin menyesuaikan agama pasangan, karena cewek yang beragama ini cantik-cantik, karena agama ini boleh makan ini, karena di agama ini tidak dosa kok di agama sebelumnya dosa , dll

Mungkin Tuhan seng bingung dewe malahan “jigur ki bocah, manggil aku sak enak udele dewe, wingi manggil aku ngono saiki dadi ngene, tak lebok ke neroko ae po yo?!..,” hahahaha… ”
Sek Ri, aku wes kesel tulis pendapatku tentang hal-hal seng kowe takokke.. Yo kui jawabanku saiki ngono ra ngerti sopo ngerti sok berubah, sopo ngerti jawaban saiki tak roso gak sreg opo gak sesuai meneh dimasa datang tak nelpon gantian hehehe.. Ndelalah, bojomu galak toh, kowe ra wani takon meneh ro aku to sok, opo galak ra popo seng penting manut ro apik’an hahaha…



Leave a Reply