Alasanku Tidak Golput untuk Pilpres 2014


07.01.14 Posted in My Favorite Story by

Beberapa hari lalu, tepatnya Jum’at tanggal 27 Juni 2014 kebetulan menemani teman mengurus hak pilihnya untuk Pilpres  di KPU Kabupaten Sleman. Mengejutkanku ketika sampai di KPU Sleman, banyak juga orang yang mengurusnya, kebanyakan mahasiswa yang berasal dari luar Jogja. Tentunya kutanya temanku itu, mengapa mereka repot-repot mengurus hak pilih mereka, ketika meraka bahkan harus membayar saat mengurus surat keterangan domisili dari RT setempat sebagai syaratnya (ternyata cukup KTP saja kalo sudah terdaftar jadi DPT di daerah asal).

Alasan, katanya ada harapan pada salah satu calon Presiden kita, mereka yakin jika calon pilihan mereka menang akan ada perubahan yang selama ini tidak seperti yang mereka harapkan. Ada calon Presiden ketika Beliau nantinya kalah dan mereka diam saja ketika bisa menentukan, akan ada yang disesalinya. Melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan, itu sudah cukup dan nantinya tidak akan ada hal yang menyesakkan dada ketika kalah sekalipun. Bangga dan salut buat mereka yang kuanggap sadar hidup bernegara, masih peduli dengan nasib bangsa dan negaranya, tidak hanya ngomong thok dan kemarin yang kuanggap sadar hidup bernegara itu, yang cewek  rata-rata cantik hahaha…

Sejak saat itu, kupikir aku tidak seharusnya cuek, sok-sok’an apatis tidak percaya pada pemerintahan, selalu berkeyakinan bahwa pemerintahan selama ini selalu diisi orang yang tidak jujur dan tidak ahli dibidangnya, meyakini bahwa orang-orang yang masuk di pemerintahan selalu dengan cara-cara yang tidak benar seperti dengan menyogok, relasi keluarga dan setelah masuk pemerintahan memanfaatkan jabatannya untuk kurupsi, menekan orang lain, memeras, melancarkan usaha keluarganya  dll..

Selama ini memang aku sendiri merasa kurang peduli ya dengan situasi politik, bahkan di pemilu caleg kemarin tidak tahu sama sekali tokoh mana yang harus kupilih sehingga manut ibuku saja hehehe… Memilih Presiden seingatku aku baru sekali saja, dulu waktu pak SBY yang pertama, kalo yang kemenangannya yang keduanya seingatku gak nyoblos. Waktu itu kupikir tokohnya hanya itu² saja, kan sudah jelas tidak ada perubahan yang signifikan.

Sekarang 2014 ini muncul  tokoh baru yang bila didefinisikan mungkin jauh berbeda dengan Presiden sebelumnya. Sepertinya harus kita renungkan dalam hati, harus kita rasakan (emosional  tetapi tetap rasional) tentang  definisi pemimpin yang sebenarnya, definisi cara memerintah yang benar.

Setelah mendengarkan kata hati, jujur benar-benar tanpa rasa kebencian kepada siapapun, jujur tanpa ada anggapan buruk pada siapapun, memang ada salah satu tokoh yang harus kupercaya dan kupilih untuk pertama kalinya dengan yakin tahu pilihanku itu. Nah untuk itu, kupikir ini pertama kalinya  aku menaruh harapan dan benar-benar percaya pada seorang tokoh yang bisa memimpin negara ini untuk lebih baik.

Sebenarnya kemarin aku masih berpikir cukup aku saja yang tahu apa yang nanti aku pilih, dan tidak pernah berniat menyampaikan dukunganku ini secara terbuka. Tetapi  setelah melihat perkembangan yang ada di dunia maya (kebetulan suka baca dan mencari  rejeki  lewat internet) ada yang salah dengan proses ini. Jujur aku jarang menonton televisi soal berita, yang kutahu ya lebih banyak lewat blog, social media, situs berita online, yang berhubungan dengan internet’lah. Dan apa yang aku baca aku rasa ada sebagian yang tidak mungkin ditayangkan di televisi, bagaimana ejekan, opini dan teori konspirasi yang menurutku nilai manusiawinya sudah tidak ada. Menjadi kepikiran karena teman-teman dan orang-orang yang kuanggap pendidikannya diatas rata-rata mempercayai hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Di sosial media mereka  shared artikel yang gak jelas penulisnya, kebenaran isinya pun dipertanyakan. Seperti semua informasi ditelan mentah-mentah tanpa dianalisis, seperti mudah percaya begitu saja. Kalo memang benar-benar ragu dari isi apa yang anda baca itu, tidak tahu itu benar atau salah, bukankah kalian masih punya hati nurani untuk menyaring informasi itu. Layak atau tidak suatu informasi itu dishared, menurutku adalah sebuah informasi yang membahagiakan/sebuah informasi tentang prestasi. Ketika sebuah informasi yang kebenarannya diragukan dan atau mungkin itu benar, tetapi informasi itu kita tidak bisa memverifikasinya dan kemungkinan menimbulkan sakit hati kepada seseorang atau kelompok tertentu, menurut standarku itu tidak layak dishared di media sosial. Untuk meninggikan seseorang tidak harus dengan cara merendahkan pihak lawannya, kenapa cara kita mencintai seseorang harus dengan cara yang menyakiti hati orang lain. Dukungan yang emosional, membabi buta sudah tidak rasional itu ada pada pendukung kedua calon Presiden kita nantinya. Ya sudahlah, kalo boleh mengingatkan sebagai manusia gunakan otak kalian untuk berpikir, menganalisa dan benar-benar dengarkan hati nurani kalian untuk menyikapi sebuah informasi.

Mendefinisikan Pemimpin yang Baik dan Menentukan Pilihan

Diawal tadi pernah kusinggung tentang definisi pemimpin dan cara memerintah yang benar. Apakah selama ini kita salah mendefinisikannya, apakah kenyataanya tidak seperti yang kita bayangkan. Selama ini definisi pemimpin yang baik adalah yang tegas, gagah, tampan, sakti mandraguna, kaya, berwibawa dll.. Ya selama ini itu yang ada dipikiran kita dan selalu akan menjadi pilihan utama untuk menjadi pemimipin kita, tetapi apa hasilnya selama ini, ya seperti ini.. rasakan dan hayati dengan hati nulari kalian sendiri. Apakah definisi  pemimpin seperti itu memang benar-benar pemimpin sejati, apakah memilih pemimpin seperti itu memberi rasa tenang dan bahagia di hati kita. Apapun pilihan pilihan kalian, aku harap yang berasal dari suara hari nurani kalian, dengarka suara itu bro hidup kalian akan bahagia tidak ada penyesalan.

Parameterku dalam memilih, mungkin bukan seperti cara memilih kebanyakan orang sekarang ini.

Tetapi bisa kupastikan aku tidak pernah menghina atau merendahkan salah satu calon Presiden karena alasan yang belum pernah ku ketahui kebenarannya. Karena menurutku, bahkan ketika seseorang berkata jujur kepada kita tetap saja itu bagiku hanya sebuah asumsi atau dengan kata lain tetap saja bukan sesuatu yang harus kuyakini. Entah kenapa dibidang apapun kalau diharuskan memilih, pasti sebenarnya sebelum lihat statistik/sejarah/track record/prestasi atau apapun cerita dibelakangnya sudah pasti di otak sudah ada bayangan, apa yang harus kupilih (insting mungkin ya..) Kalau bertemu langsung dengan seseorang, entah kenapa ketika melihat raut wajah seseorang aku merasa sudah tahu sifatnya, seperti bisa membedakan raut muka orang yang jujur dengan orang yang licik hehehe.. dan itu sangat tidak dibenarkan tetapi selama ini kujalani hahaha..

Ini cara memilihku ketika tidak tahu kebenaran dari  suatu informasi, opini dan teori konspirasi yang sudah kubaca selama ini.

Tidak suka memilih seseorang karena silsilah keluarga dan sesuatu yang tidak berkaitan dengan apa yang dikerjakan,  kalau dia mampu dan bisa ya ku dukung bahkan ketika mungkin latar belakangan idealisme sangat bertentangan denganku. Untuk parameter ini yang penting hasil yang dikerjakan, tidak peduli latar belakang keluarga seseorang itu, berasal darimana orang itu dan keyakinannya.

Tidak suka memilih Idola karena kelebihan yang dinamakan bakat sejak lahir, lebih suka sesuatu karena karena ketekunan belajar dan latihannya. Untuk parameter ini, “image” apapun tidak dipakai seperti jujur ataupun tegas; bentuk fisik dan umur tidak dipakai; kepandaian ngomong tidak kupakai; anggapan otoriter ataupun suka  ingkar janji tidak dipakai; yang terpenting prestasi apa yang sudah dilakukan kalaupun bukan prestasi sesuatulah yang nyata sudah dilakukan buat masyarakat dan negaranya.

Oleh karena itu menurutku, Jokowi merupakan sebuah definisi pemimpin yang baru, definisi cara memerintah yang baru, definisi cara memperlakukan rakyatnya yang baru, definisi cara mengatasi masalah yang kompleks di masyarakat yang baru. Dan dari apa yang sudah kubaca dan kulihat di televisi, beliau saat ini seorang pemimpin dengan cara memerintah yang lebih tepat diterapkan saat memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Untuk itu aku memutuskan untuk mendukung beliau, dan mari kita dukung sosok pemimpin yang baru seperti ini, ada harapan pada beliau dan harapan itu tidak sama dengan yang sudah terjadi, mungkin akan diam dalam sesal ketika aku tidak berbuat apa-apa padahal aku bisa memberikan satu suara saat hari pencoblosan nanti. Jadi aku putuskan besok tanggal 9 Juli 2014 pulang kampung untuk mencoblos no.2 Jokowi-Kalla. Salam 2 Jari..!!



Leave a Reply